Just another free Blogger theme

Pengelola

Foto saya
Pati, Jawa Tengah, Indonesia
Sugiharto, S.Pd.I, M.Pd. Lahir di Pati Jawa Tengah. 19 September 1990. Menempuh pendiidkan Mulia dari RA. Masyithah (1997), SD Kertomulyo II (2003), MI Miftahul Huda (sore 2004), MTs Raudltul Ulum (2007), MA Raudltul Ulum (2010) semuanya berada di Pati Jawa Tengah. Kemudian melanjutkan Pregram sarjana di STIT Al-Fattah siman Lamongan Jurusan PAI Lulus Tahun 2014. Lalu mengambil Program Magister di UIN Sunan Kali Jaga Fakultas Tarbiyah lulus 2019. Mengabdikan diri di MAN 1 Brebes 2019-2024, MAN 2 PATI dan Kemenag Pati

Minggu, 08 Januari 2023


Air Hujan masih menghiasi malam minggu ini. Tak ada lagi rekan guru yang tertangkap oleh mataku di ruang guru . Sendiri , aku berdiri menyanyikan lagi kebangsaan di acara pembukaan kbmn ke-28. Ratusan orang dari berbagai daerah tampak mengikuti via zoom. Wajah-wajah penuh semangat memenuhi laptopku.


Satu demi satu saya simak dan dengarkan pemateri, banyak ilmu yang belum pernah kudapat sebelumnya. Semuanya tentang menulis. Sebuah cara manusia memahat keabadian melawan waktu. Aku tertarik dengan salah satu pemateri yang mengatakan menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi. Terdengar sederhana tapi dalam maknanya. Ada nilai-nilai yang dapat diambil disana. Setidaknya ada tiga . Aksi, kontinyu dan hasil.

Aksi

Menulis memerlukan aksi, tanpa aksi ide hanya ide, gagasan hanya ada di kepala.  Memulai apapun selalu lebih sulit. Begitulah adanya. Bingung mau menulis apa, diawali apa, bagaimana kalau jelek, diejek. Setumpuk rayuan setan ada dikepala. Maka perlu aksi. Menulislah.

Kontinyu.

Manusia bukan robot, yang kaku. Kita fleksibel dinamis bukan statis. Maka kata kontinyu dalam arti “keajekan” tak semua manusia bisa apalagi dalam jangka waktu lama. Seminggu, sebulan setahun atau berapapun waktunya ada potensi luntur kontinuitas itu. Tak salah jika dalam Bahasa agama kontinyu atau istiqomah itu lebih hebat dari pada seribu karamah. So,  Menulis setiap hari bukan perkara mudah, dengan berbagai kesibukan yang melanda. Tapi itu bukan kemustahilan. Aksi dan kontiunitas harus seiya sekata. Mari mencoba.

Hasil

Butuh waktu untuk mendapatkan yang kita inginkan, yang kita tanam maka itulah yang kita tuai. Perih berbuah tawa. Kata seorang kawan, entah dari mana dia mengambil ” usaha takkan menghianati hasil”. Hasil dari yang kita tulis tak tahu nanti apa. Tapi, dengan keyakinan semua bisa menjadi nyata. Syaratnya aksi dan kontinyu tadi tak boleh lupa.

Ada beberapa lagi yang saya ingat sebenarnya dari pemateri kemaren, ikatlah ilmu dengan menulis.  Mengabadikan pengetahuan dengan tinta. Orang dulu mengibaratkannya sepeti kita mengikat hewan buruan dengan tali, agar tak lari maka harus di ikat dengan tali,.

Selanjutnya terkait mekanisme dan persyaratan agar lulus dan mendapatkan sertifikat. Membikin 30 resume dari setiap pemateri serta menerbitkan buku solo. Memancing rekan-rekan antusias bertanya.

Terakir yang saya ingat, Karena ini zaman digital, maka perlu mengupluad tulisan kita di web, pemateri menyarankan blog yang mudah dan efisien. Bisa dipelajari sendiri. Selain itu tulisan yang kita buat bisa diakses oleh orang seluruh dunia.

Termaksih. Semoga kita semua dapat lulus dan memperoleh seperti yang kita harapkan. Selamat menulis.

 

والقلتان خمسمائة  رطل بالغدادى تقريبا  في الاصح

Adapun ukuran dua qullah  ialah : air yang mencapai  500 kati negeri bagdat ,demikian lah kira kira menurut pendapat yang sangat shahih .

Ukuran air dua kullah  sebagaimana  di terangkan oleh sebagian ulama  adalah sebagai berikut :

> Imam nawawi menentukan : 174 , 580 liter / 55,9 cm3 .


> Imam Rafi'i menentukan : 176 ,245 liter / 56,1 cm3

 

3 kati irak sekitar  :  245, 325 liter / 62 ,4 cm3

Mayoritas ulama : 60 cm / 216 liter 

 

Air yang kurang dua qullah tersebut jika kemasukan  najis  maka menjadi najis baik ada perubahan atau tidak dan air tersebut tidak dapat di gunakan untuk :

1. Raf'il hadas : menghilangkan hadas  ( hadas besar atau kecil ) seperti wudhu dan  mandi wajib

2. Izalatil najasah : menggangkat / menghilangkan najis

Air tersebut bisa di gunakan lagi dengan di tambahi air suci lagi menjadi dua qullah lebih dan gak ada perubahan  padanya


Hadits yang membicarakan air dua qullah (kulah) adalah hadits berikut.

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ اَلْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ اَلْخَبَثَ

“Jika banyaknya air telah mencapai dua qullah (kulah) maka ia tidak mungkin mengandung najis.” (HR. Abu Daud, no. 63; Tirmidzi, no. 67; An-Nasai, 1:75:46; Ibnu Majah, no. 517. Hadits ini adalah hadits yang sahih. Lihat Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 1:36).


Jumat, 06 Januari 2023

 Alat Thaharoh Ada Tiga:


1.      1.  air

2.     2. debu

3.     3.  batu

اَلْمِيَاهُ الَّتِىْ يَجُوْزُ التَّطْهِيْرُ بِهَا سَبْعُ مَيَاهٍ مَاءُ السّمَاءِ وَمَاءُ الْبَحْرِ  وَمَاءُ النَّهْرِ وَمَاءُ الْبِئْرِ وَمَاءُ الثَّلْجِ  وَمَاءُ الْبرَدِ

1. Air yang di anggap sah untuk di pakai bersuci itu ada tujuh macam sebagai berikut :

a.      2. Air hujan.


b.      3. Air laut ( air asin )

c.       4. Air sungai ( air tawar)

d.      5. Air sumur .

e.      6. Air sumber .

f.        7. Air es .

g.      8 Air Embun


ثُمَّ الْمِيَاهُ اَرْبَعَةُ اَقْسَامٍ

 Kemudian air air tersebut di atas terbagi menjadi empat bagian  sebagai berikut :

 طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوْهٍ اِسْتِعْمَالُهُ وَهُوَ مَاءُ الْمُطْلَقِ

Ø  A. air yang suci dan mensucikan kepada yang lain, tidak makruh menggunakannya  dan lepas qoyid ( batasan ) yang mengikat diSegala keberadaanya .

وَطَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوْهٍ اِسْتِعْمَالُهُ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُشَمَّسِ

Ø  B. air suci yang mensucikan tetapi makruh penggunaannya pada anggota badan bukan makruh untuk mensucikan pakian yaitu ari yang di panaskan dengan sengatan matahari

وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ لِغَيْرِهِ وَهُوَ الْمَاءُ الْمُسْتَعْمَالُ وَالْمُتَغَيَّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهَرَاتِ 

 

Ø  C. air suci  tetapi tidak dapat menducikan pada yang lain ,yaitu air mustakmal  artinya air yang sudah dipakai menghilangkan hadas atau najis

وَ مَاءُ نَجْسٍ وَهُوَ الَّذِىْ حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ

Ø  D. Air suci yang kena najis ( yang tidak dima'fu )

 

اَلْمَرْتَبَةُ الْاُوْلَى تَطْهِيْرٌ عَنِ الْاَحْدَاثِ وَعَنِ الْاَخْبَاثِ

 

Tingkatan pertama dari toharoh : mensucikan anggota lahiriyah dari hadas dan najis

وَالْحَدَثُ لُغَةً الشَّيْئُ الْحَادِثُ  وَقَالَ بَعْضُهُمْ الْمُنْكَرُ الَّذِىْ لَيْسَ بِمُعْتَادٍ وَلَا مَعْرُوْفٍ وَعُرْفًا يُطْلَقُ عَلَى السَّبَبِ الَّذِىْ شَأْنُهُ يَنْتَهِىْ بِهِ الطُّهْرُ وَعَلَى اَمْرٍ اعْتِبَارِىٍّ بِالْاَعْضَاءِ يَمْنَعُ مِنْ صِحَّةِ الصَّلَاةِ حَيْثُ لِاَ مْرٍخَصٍّ وَعَلَى الْمَنْعِ الْمُتَرَتِّبُ عَلَى ذَلِكَ  اَىْ عَلَى  الْاَمْرِ الْاِعْتِبَارِى الْمَذْكُوْرِ

 

Hadas secara bahasa adalah sesuatu yang baru datang , Menurut sebagian ulama : berarti sesuatu yang baru datang yang tidak di inginkan kedatanganya yang bukan kebiasan dan tidak di ketahui

Hadas secara umum di artikan sebagai sesutu yang menjadikan  sebab hilangnya  tingkah suci seseorang atau di artikan  sebagai suatu perkara yang di nisbatkan kepada snggota badan yang dapat menghalangi sah nya sholat seseorang dalam tingkah ihtiar ( biasa / tidak teraksa ) Atau di artikan dengan sesuatu yang dapat mencegah  sahnya solat

 

وَالنَّجَاسَةُ لُغَةً الشَّيْئُ الْمُسْتَقْذِرُ  وَشَرْعًا كُلُّ عَيْنٍ حُرِمَ تَنَاوُلُهَا عَلَى الاِطْلَاقِ حَالَةَ الْاِخْتِيَارِ مَعَ سُهُوْلَةِ  التّمْيِيْزِ وَلَا لِاسْتِقْذَارِ وَلَا لِضَرَرِهَا فِيْ بَدَنِ اَوْ عَقْلٍ

 

Najis secara bahasa adalah sesuatu yang menjijikan . Najis secara syar'i  adalah : setiap benda yang harom di pergunakan secara mutlaq saat keadaan ikhtiar ( biasa) dan serta saat gampang untuk membedakannya , bukan harom dari segi menjijikanya ataupun dari segi membahaykannya terhadap badan dan aqal

Perbedaan antara najis dan hadas

وَالْحَبْثُ هُوَ النَّجْسُ وَفَرْقُ بَيْنَهُمَا بِاَنَّ الْحَدَثَ  مَا اِفْتَقَرَ اِلَى النِّيَةِ  وَالْحَبْثُ مَالَا يَفْتَقِرُ اِلَيْهَا 


 

Hadas :

1 cara mensucikanya butuh niat .

2 hadas tidak bisa di lihat oleh panca indra

 

وَاِنَّ الْاَوَّلِ  مَا لَايُدْرِكُ بِالْحِسِّ وَالثَّانِىْ مَا يُدْرِكُ بِهِ

Najis :

1 cara mensucikanya tidak butuh niat

2 dapat di lihat oleh pancaindra

Kamis, 05 Januari 2023

 

Muhasabah Akhir dan Awal Tahun:

Sudahkah Kita Bersyukur kepada Allah?

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لله الْمَلِكِ الدَّيَّانِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَ الْجِهَّةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْاَنُ

اَمَّا بَعْدُ عِبَادَ الرَّحْمَنِ فَاِنِّيْ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ القَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْقُرْاَنِ : إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ (غافر : ٦١ (  

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.

Hadirin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah,

Sungguh, nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepada umat manusia sangatlah melimpah dan tidak dapat dihitung. Kesehatan, harta, mata, telinga, lisan, anak yang berbakti, istri yang shalihah, teman yang setia, tetangga yang baik dan masih banyak lagi yang lain adalah nikmatnikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Meskipun demikian, kebanyakan manusia tidak bersyukur. Bahkan banyak di antara kita yang tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut adalah nikmat dan anugerah dari Allah ta’ala. Banyak pula di antara kita yang tidak mengetahui hakikat syukur dan bagaimana cara bersyukur. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ (غافر : ٦١ (

Maknanya: “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang memberikan anugerah pada umat manusia. Hanya saja kebanyakan umat manusia tidak bersyukur (kepada-Nya)” (QS. Ghafir: 61)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Syukur ada dua macam. Ada syukur yang wajib dan ada syukur yang sunnah. Syukur yang wajib adalah tidak menggunakan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Jadi bersyukur kepada Allah atas nikmat lisan adalah tidak mengatakan perkataan yang diharamkan oleh Allah. Bersyukur kepada Allah atas nikmat telinga adalah dengan tidak mendengarkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Bersyukur kepada Allah atas nikmat mata adalah dengan tidak melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Bersyukur kepada Allah atas nikmat harta adalah dengan tidak membelanjakannya untuk perkara yang haram.

Adapun syukur yang sunnah adalah mengucapkan dengan lisan pujian yang menunjukkan bahwa Allah-lah Sang Pemberi nikmat dan yang menganugerahkannya kepada para hamba-Nya, semisal dengan ucapan al-hamdulillah. Pemberian nikmat kepada hamba adalah murni anugerah dan karunia dari Allah, bukan kewajiban bagi-Nya. Karena memang tidak ada sesuatu pun yang wajib bagi-Nya.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡئَرُونَ  (النحل:٥٣)

Maknanya: Dan nikmat apa pun yang ada pada kalian adalah dari Allah.Kemudian jika kalian terkena mara bahaya, maka hanya kepada-Nya-lah

hendaknya kalian memohon (QS. an-Nahl: 53)

 

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

 

Sebagian orang sama sekali tidak bersyukur. Dan sebagian yang lain bersyukur tetapi tidak secara sempurna. Orang-orang yang sama sekali tidak bersyukur kepada Allah adalah mereka yang takabbur sehingga tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh para nabi. Mereka tidak mau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para utusan-Nya dan juga hari akhir. Mereka meyakini kekufuran dan menolak tauhid. Mereka ini tidak bersyukur kepada Allah taala sama sekali. Karena mereka telah meninggalkan kewajiban yang paling dasar dan paling utama, yaitu iman yang Allah jadikan sebagai syarat diterimanya amal kebaikan. Mereka ini termasuk yang dimaksud

dengan firman Allah taala:

وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا  (الفرقان:٢٣)

Maknanya: “Dan Kami (Allah) menghukumi amal (yang mereka anggap baik) yang mereka lakukan (dalam keadaan tidak beriman), maka Kami jadikan amal mereka seperti debu yang bertebaran (tidak berguna dan tidak diterima).” (QS. al Furqan: 23)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah telah memuji Nabi Ibrahim dalam firman-Nya:

إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ شَاكِرٗا لِّأَنۡعُمِهِۚ ٱجۡتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ  (النحل:١٢٠-١٢١)

Maknanya: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam panutan nan taat kepada Allah serta berpaling pada agama yang lurus. Dan ia tidak pernah termasuk orang-orang musyrik. Dia adalah orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya.” (QS. an-Nahl: 120-121)

 

Dalam kitab tafsirnya, ath-Thabari mengatakan:

“Maknanya Ibrahim tulus bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Dan dalam bersyukur kepada Allah atas nikmat- Nya tersebut, Ibrahim tidak menjadikan sekutu bagi-Nya.” Artinya, syukur Nabi Ibrahim kepada Allah diwujudkan dengan beriman kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sedangkan orang-orang yang syukur mereka tidak sempurna adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tapi mas  meninggalkan kewajiban dan melakukan perkara yang diharamkan. Keadaan mereka di akhirat tergantung kehendak Allah. Jika Ia berkehendak, mereka diampuni oleh-Nya dan langsung dimasukkan surga. Dan jika Ia berkehendak, mereka tidak diampuni oleh-Nya lalu dimasukkan ke dalam neraka beberapa lama. Akan tetapi walau bagaimanapun, seseorang yang mati dalam keadaan beriman, pada akhirnya semuanya akan dimasukkan ke dalam surga.

 

Hadirin rahimakumullah,

Jika keluhuran budi dan akhlak yang terpuji menuntut kita untuk membalas sesama hamba yang berbuat baik kepada kita dengan berterima kasih dan berbuat baik kepadanya, maka lebih utama bagi kita untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Imam al Junaid pernah ditanya tentang apa itu syukur. Beliau menjawab:

اَنْ لَا يُعْصِى اللهُ بِنِعَمِهِ

 

 

“(Syukur yang wajib adalah) tidak bermaksiat kepada Allah dengan nikmat-nikmat-Nya.”

 

Seseorang yang menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh perkara yang diharamkan, maka ia adalah hamba yang syaakir. Kemudian, jika ia tidak disibukkan dengan nikmat sehingga melalaikan syukur kepada Sang Pemberi nikmat, dan ia menyadari betapa agungnya nikmat Allah yang selalu melingkupinya dan perasaan itu semakin kokoh dalam dirinya serta ia memperbanyak amal-amal kebaikan lebih dari kewajibannya, maka ia disebut hamba yang syakuur (pandai bersyukur). Hamba yang syakuur lebih sedikit jumlahnya daripada hamba yang syaakir. Allah ta’ala berfirman:

 

وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ  (السبأ: ١٣)

 

Maknanya: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang mencapai derajat syakuur” (QS. Saba’: 13)

Jadi, orang-orang bertakwa yang bersih dari dosa dan tidak disibukkan dengan nikmat sehingga melalaikan syukur kepada Dzat Pemberi nikmat, adalah orang-orang yang sangat jarang dan sedikit di antara kaum muslimin.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

اَلنَّاسُ كَاِبِلٍ مِائَةٍ لاَتَكَادُ تَجِدُ فِيْهَا رَاحِلَةٌ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Maknanya: “Umat manusia itu ibarat seratus ekor unta. Hampir tidak kamu dapati di antara mereka yang layak untuk ditunggangi dalam perjalanan jauh.” (HR. Muslim)

Dalam hadits ini terdapat sebuah isyarat bahwa kebanyakan orang memiliki kekurangan. Sedangkan orang-orang mulia yang zuhud terhadap dunia, mengejar kebahagiaan akhirat dan memenuhi syukur dengan sempurna, jumlah mereka sangat sedikit. Orang-orang pilihan tersebut ibarat satu unta yang layak dijadikan sebagai hewan tunggangan, di antara sekelompok unta yang ada. Satu unta ini yang bagus dan layak dikendarai untuk perjalanan jauh di antara sekelompok unta tersebut.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

 

اَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُالرَّحِيْمِ

Khutbah II

 Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَ أُصَلِّي وَاُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَاَ مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَهْلَ الْوَفَا. اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اَلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ.

اَمَّابَعْدُ فَيَا اَيَّهَا الْمُسْلِموْنَ. اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا   اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ عَظِيْمٍ اَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقال: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّۚ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ  عَلَى سَيِّدِنَا  اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا ِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمّدٍ  وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ  كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا  اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا ِبْرَاهِيْمَ. فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ  عَنّاَ الْبَلَأَ وَالْغَلَأَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَأَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَ السُّيُوْفَ وَالْمُخْتَلِفَةَ وَالشّدَائِدَ وَالْمِحَنَ. مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. مِنْ بَلَدِنَا هَذَاخَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

 

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَي وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِوَالْبَغْيَ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

 

 


Selasa, 03 Januari 2023

 BERSUCI

Allah berfirman :

 


اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

 

Artinya : sesungguhnya Alloh senang orang orang yang bertaubat dan senang pula kepada orang orang yang bersih

 

Sabda baginda Nabi :

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُوْرِ

Artinya :   kunci sholat adalah suci

وَالطّهَارَةُ  لُغَةً النَّظَافَةُ

Thoharoh secara bahasa adalah bersih atau suci dari segala kotoran

الطَّهَارَةُ شَرْعًا فِعْلُ مَا تُسْتَبَاحُ بِهِ الصَّلَاةُ اَىْ مِنْ وُضُوْءٍ  وَغُسْلٍ وَتَيَمُّمٍ وَاِزَالَةِ نَجَاسَةٍ

Thoharoh dari segi syariat adalah: mengerjakan sesuatu yang seseorang di perbolehkan mengerjakan solat yakni wudhu mandi tayamum menghilangkan najis.

 

 

Menurut Imam Gozali  Thaharoh ada 4 tingkatan

اَلْمَرْتَبَةُ الْاُوْلَى تَطْهِيْرٌ عَنِ الْاَحْدَاثِ وَعَنِ الْاَخْبَاثِ  وَاْلفُضَلَاتِ

1.     Tingkat Pertama ; mensucikan anggota lahiriyah dari hadas dan najis

اَلْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَّةُ : تَطْهِيْرُ الْجَوَارِحِ عَنِ الْجَرَائِمِ وَالْاَثَامِ

2.     Tingkat Kedua :, mensucikan anggota tubuh dari kesalahan dan dosa

اَلْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ تَطْهِيْرُ الْقَلْبِ عَنِ الْاَخْلَاقِ  الْمَذْمُوْمَةِ وَالرَّذَائِلِ الْمَمْقُوْتَةِ

3.     Tingkat Ketiga :  mensucikan hati dari ahlak tercela dan sifat sifat jelek

اَلْمَرْتَبَةُ  الرّابِعَةُ تَطْهِيْرُ السِّرِّ عَمَّا سِوَى اللهِ تَعَالَى

4.     Tingkat Ke  Empat : mensucikan siir dari selain Alloh dan ini merupakan bersucinya para nabi

            Tujuh puluh tujuh bukanlah usia yang muda bagi manusia. Usia lanjut yang tinggal menikmati hasil karya Ketika muda. Tapi tidak bagi Lembaga yang diprediksikan berusia panjang sepanjang adanya bansa dan negara ini.

Meminjam bahasanya Gus men, HAB Ke 77 sebagai penanda pengabdian kemenag melayani seluruh umat. Tepatnya seluruh kaum beragama di nusantara ini karena kemenag adalah kementrian untuk seluruh agama.

Berbagai terobosan telah dilakukan, inovasi dengan terciptanya aplikasi layanan kementrian Agama pusaka super Apps. Birokrasi lebih lincah dan reponsif. Sehingga diganjar lebih dari 22 penghargaan pada tahun 22 yang baru saja terlewati.

Satu diantara berbagai penghargaan itu ialah diterima dari KPK. Menandakan banyaknya insan-insan di KEMENAG yang patut menjadi inspirasi bagi kita semua. Ada lagi penghargaan media. Komandan kemenag yaitu Gus men menerima MoeslimChoice Award 2022 untuk kategori Good Governance. Ada juga keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2022 meski waktu persiapan mepet. Dan masih berjibun penghargaan lagi. Selamat hari amal bakti kemenag Ke—77 dengan semangat "Kerukunan Umat Untuk Indonesia Hebat.

 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ , ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ يَزِيدَ , ثنا إِبْرَاهِيمُ , قَالَ: سَأَلْتُ الْفُضَيْل: مَا التَّوَاضُعُ؟ قَالَ: " أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادُ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبَلْتَهُ مِنْهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبَلْتَهُ مِنْهُ."

 

Imām Ibrāhīm rahimahuLlāh berkata:

Aku bertanya pada Imām al-Fudlail bin Iyādl rahimahuLlāh..

apa itu tawādlu' ?

Beliaupun menjawab.

"Adalah engkau menyerah pada kebenaran dan tunduk kepadanya....

Andai engkau (mendengar kebenaran) itu dari anak kecil, terimalah.

Andai engkau (mendengar kebenaran) itu dari orang yang paling bodoh sekalipun, terimalah".

 

 

Sumber:  کتاب حلية الأولياء ، ج ٨ ، ص ٩١

Senin, 02 Januari 2023

PERINGATAN BAGI KITA


PASAL 268


BAB HASUD

قَالَ الْفَقِيْهُ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ

Al Faqih R.A berkata ;

يَعْنِى اَنْ يَجْتَهِدَ حَتَّى يَفْعِلَ مِثْلِ فِعْلِهِ  فِيْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَفِيْ الصَّدَقَةِ فَهَذَا الْحَسَدُ مَحْمُوْدٌ 

Orang yang bersungguh sungguh  hingga bisa melakukan  seperti yang di lakukan seseorang  di dalam masalah solat malam dan masalah bersedekah maka iri dengki yang seperti ini adalah iri dengki yang terpuji


 

فَاَمَّا اِذَا حَسَدَ هُ فِيْ ذَلِكَ يُرِيْدُ زَوَالَهُ عَنْهُ فَهُوَ مَذْمُوْمٌ  

Adapun jika iri dengki ( hasud ) menghilankan masalah orang lain di dalam masalah solat malam dan masalah bersedekah  hla iri dengki ( hasud ) seperti ini lah di namakan iri dengki yang tidak terpuji ( tercela )

Sumber: Kitab Tanbihul Ghafilin